Penggunaan deklarasi DOCTYPE didalam sebuah dokumen html menandakan jenis dokumen tersebut dan bagaimana sebuah browser me-render output berupa halaman kepada user. Penggunaan DOCTYPE switch membuat halaman website kita bisa dapat berjalan di dua mode yaitu standard mode dan quirk mode tergantung dari jenis browser yang digunakan (kecuali IE 6 yg menambahkan tag xml utk dapat berjalan di quirk mode). Tapi tahukah anda kapan pertama kali ide penggunaan DOCTYPE switch dicetus ? adalah seorang yang bernama Todd Fahrner di tahun 1998 yg mencetuskan ide ini pertama kali.
Dia juga yang memiliki alasan betapa banyaknya website yang menggunakan table-based untuk melayout halaman, sehingga penggunaan DOCTYPE switch menjadi solusi pada saat itu. Saya juga baru tau kalo ide tableless design utamanya memiliki standard W3C udah ada semenjak tahun 1998 
Setelah resign dari kantor, saya diminta untuk membantu melakukan interview beberapa calon web developer. Dari sekitar lima calon yang diajukan, saya memilih dua saja, ini karena hanya dua dari lima calon yang sepertinya memiliki pengalaman yang cukup sesuai requirement dari pihak kantor. Yang saya perhatiin dari resume kelima orang tersebut, rata rata mereka terlalu overrated terhadap skill mereka, menuliskan semua skill yang tidak berhubungan dengan web development.
Continue reading ‘Definisi web developer’
Perlahan tapi pasti client side application mulai ditinggalkan dan digantikan oleh web application. Trend web application saat ini semakin berkembang dengan cepat yang diakibatkan oleh beberapa faktor utama yaitu akses internet yang semakin cepat (indonesia perkecualian
) serta pergerakan pengguna yang semakin mobile. Web application menawarkan kemudahan pemakaian dari mana saja dan dimana saja, sebut saja google office, dan masih banyak lagi.
Continue reading ‘Prism, web application di desktop’
Salah satu kelemahan menggunakan div adalah menyamakan tinggi beberapa div untuk kolom serta membuat div tersebut expandable mengikuti tinggi window. Liat screenshot berikut:

Secara default tinggi div kolom berbeda-beda mengikuti isi dari div tersebut. Belum lagi jika tinggi dari div kurang dari ukuran window browser sehingga footer tampak seperti melayang diatas. Ada beberapa teknik tertentu untuk membuat tinggi kolom tampak sama antara lain menggunakan cara faux column. Kali ini kita akan membuat agar semua kolom mempunyai tinggi sama dan jika kurang dari tinggi window browser maka secara otomatis akan menyamakan-nya. Yg kita perlukan adalah jQuery, plugin equalizeCols dan sedikit teknik css. Hasil akhir akan seperti ini:

Continue reading ‘Full height column. CSS & jQuery’
Berawal dari sini, sekarang semua sudah diselesaikan dgn baik oleh Pak Muhammad Ismail, general manager Zahir International yg langsung telpon saya. Pak Muhammad juga memberikan kejutan (makasih!) berupa upgrade gratis dari versi yg saya gunakan yaitu small business ke versi enterprise secara GRATIS. Mudah2-an saat install nanti gak terjadi masalah lagi. Update akan terus diposting
Sebenernya permasalahan ini adalah bagian dari faktor yg disebabkan masih minim-nya pemahaman terhadap fungsi website utamanya website2 corporate. Beberapa point menurut saya pribadi:
Continue reading ‘Zahir Accounting continued’
Buat yg mau nguprek google, buku Google’s pagerank and beyond sangat pas buat anda ;-). Sedangkan buku satunya mengupas tuntas CSS sebagai solusi web standard, recommended book!
Sesuai roadmap yg dipublish, Mambo 4.7 menjanjikan salah satu fitur yg telah lama dinanti oleh banyak orang yaitu aturan accessibility dan aturan semantic. Accessibility sangat penting terutama di beberapa negara yg memiliki aturan tegas terhadap masalah ini. Semakin banyak negara-negara yg mengadopsi aturan ini agar website menjadi lebih ‘user friendly’ dan ‘media friendly’. Bisa diakses baik bagi orang-orang yang normal maupun memiliki kekurangan fisik dan bisa diakses dari berbagai media mulai dari browser sampai screen reader.
Continue reading ‘CMS dan accessibility’
Saya terkadang heran aja, hampir dan emang kebanyakan website-website corporate di indonesia pada ancur, baik dari sisi layout dan desain, konten dan navigasi, sampe usability dan accessibility. Liat aja website macam telkomsel, XL, dan banyak lagi..
Kalo dibilang gak ada dana, kayaknya gak mungkin. Dibilang gak serius juga kayanya gak mungkin. Apa karena belon ada awareness tentang website yg bagus ya? Jangankan ngikuti aturan WCAG, yg belum mengikuti semantik web aja masih banyak, bahkan ada website-website corporate yg jadul banget in terms of how they code it.
Di sisi lain, ini jadi sebuah tantangan bagi firma web development di Indonesia untuk tidak hanya bisa memberi penawaran harga web yg selangit tapi juga dibarengi dengan kualitas dari website yg mereka kerjakan.
ps: masak kalah kualitas sama web developer freelancer 
Recent Comments